Cari Blog Ini

Kompetisi Blog Education UK 2009

Kompetisi Blog Education UK 2009
Lomba Blog

Minggu, 04 Oktober 2009

Takdir Nama Menuju Inggris

Impian merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang, sebab jika impian tidak ada maka kita tidak dapat bergerak maju untuk melihat masa depan. Tapi bagaimana jika impian itu menjadi satu poros dengan takdir dari sebuah nama? Hal inilah sesuatu yang menarik untuk saya pertimbangkan jika adanya kesempatan belajar diluar negeri. Tujuan yang ingin saya tuju tentu saja Inggris karena berkaitan dengan jati diri saya sendiri jika dilihat dari nama saya. Nama lengkap saya sendiri adalah “ODI BOY Pramana Hutajulu”. Jika dibaca dari belakang berdasarkan bahasa yang digunakan dalam struktur nama ini akan didapatkan kombinasi Batak, Jawa, Inggris, Inggris. Berikut merupakan penjabaran nama saya secara gambling dibaca dari belakang:

· Bagian pertama dimulai dari kata Hutajulu, bagian ini merupakan marga yang diturunkan dari orang tua saya yang berasal dari suku Batak,

· Bagian kedua adalah Pramana, kata ini berasal dari bahasa Jawa.

· Bagian Ketiga (yang paling menarik) adalah Odi Boy yang berasal dari unsur bahasa Inggris

Bagian nama yang terakhir setelah saya telusuri ketika saya SMP ternyata berasal dari bahasa Inggris dan menjadikan impian saya untuk bersekolah diluar negeri mengerucut menuju Inggris untuk menggenapi takdir yang melekat dalam nama ini. Satu hal yang selalu terbersit dalam diri saya adalah bahwa hal ini bukan semata kebetulan karena perjalanan pendidikan yang saya emban selama ini digariskan dalam nama saya sendiri. Saya mulai bersekolah dari TK sampai SMA dikota kelahiran saya yang berada di Sumatera Utara, tepatnya tempat dimana mayoritas orang menggunakan bahasa Batak dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan unsur keempat dari nama saya sudah saya genapi. Berlanjut ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi adalah menuntut ilmu di perguruan tinggi dan yang benar-benar bukakn suatu kebetulan bahwa saya kuliah di salah satu perguruan tinggi di Pulau Jawa, tepatnya di kota Surabaya. Hal ini tentu saja menggenapi unsur ketiga dari nama saya dan sekali saya berpikir ini tentu saja bukan suatu hal kebetulan. Perlu diceritakan sedikit, sesungguhnya sewaktu seleksi masuk perguruan tinggi negeri saya salah memasukkan kode jurusan yang saya pilih yang seharusnya di Sumatera Utara malah tersesat di Jawa Timur. Dan lagi-lagi saya merenung bahwa impian sewaktu saya SMP untuk bersekolah diluar negeri tampaknya saya harus menggenapi takdir dari nama saya yaitu menuju Inggris. Hal ini digarisbawahi bahwa dua unsur terdepan dari nama saya berasal dari bahasa Inggris dan menjadi alasan kuat bahwa impian saya harus dibarengi dengan takdir yang melekat dinama saya. Sungguh impian yang indah mengingat saya sudah menginjak semester tujuh dan akan lulus dari program sarjana. Setelah lulus saya berkeinginan untuk mewujudkan impian ini dengan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu ke program magister dan harus mendapatkannya dari luar negeri, tepatnya Inggris. Impian ini akan saya penuhi dengan mencari beasiswa pendidikan atau bekerja satu tahun dulu untuk menabung dana sekolah di Inggris karena impian masa kecil tidak boleh putus jika saya ingin menatap masa depan yang lebih cemerlang. Oh ya, satu hal terlewatkan saya belum menjelaskan arti dari dua unsur pertama dari nama saya yaitu Odi Boy. Kata Boy sendiri dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai ‘ a male child or youth’ atau dalam bahasa Indonesia sebagai anak laki-laki, sedangkan kata Odi dalam Inggris berarti “ prosperous protection or wealthy defender” atau dalam bahasa Indonesia berarti pembela orang kaya (mudah-mudahan saja saya bisa menjadi pelindung para bangsawan di Inggris J). Nah, hal menarik inilah yang mendorong saya untuk mengejar impian saya sejak kecil dan harapan saya akan selalu hidup terus selamanya dalam nama yang saya gunakan dalam kehidupan ini.

Kamis, 01 Oktober 2009

Japanese Ghost

t's Halloween time! Like many other western customs (Christmas, Valentine's Day etc.), the Japanese easily adopt it, especially for commercial purposes. There are pumpkins displayed at the stores, and some people wear costumes and go to parties. However, there is no real custom for Halloween in Japan. I never experienced "Trick or Treating" with a cute costume when I was little...

I will tell you about Japanese ghosts, though the Japanese ghost is usually a thing of summer. The Japanese have their own ghosts, and there are a few terms to describe them.

Obake, Bakemono

Literally means, "transforming thing." "O" is an honorific prefix and "bake" is a noun form for the verb "bakeru (to change, to transform)." It can also be used more generally to refer to anything that is weird or grotesque.

Yuurei

According to Shinto beliefs, all people have a soul called "reikon." When a person dies, the reikon leaves the body and joins the souls of its ancestors. However, when a person dies suddenly by murder, is slain in battle, commits suicide, or when he or she hasn't been given an appropriate funeral, the reikon may become a yuurei to seek revenge. Many yuurei are female ghosts who suffered badly in life from love, jealousy, sorrow, or regret. Male yuurei are less common.

Yuurei usually appear in a white kimono (katabira), which people were buried in the old days, and have no legs. They also wear a white triangular piece of paper or cloth (hitaikakushi) on their forehead. They usually appear between 2 and 3 a.m.

Here is one of the famous yuurei stories "Bancho sara-yashiki (The Story of Okiku)" in Japanese and English.

お 菊は青山鉄山の家に、女中として働いていました。ある日家宝である十枚の高価な陶器の皿を片付けているとき、お菊はうっかりその皿の一枚を割ってしまいま した。怒った青山はお菊を殺し、その死体を古井戸に投げ捨てました。その後毎晩お菊の幽霊が井戸から現れ、皿をゆっくり九枚まで数えると、突然悲痛なすす り泣きを始めるのでした。それは何度も何度も繰り返され、青山を苦しめました。ついに青山は気が狂い、お菊の復讐は果たされたのでした。

Okiku wa Aoyama Tessan no ie ni, jochuu to shite hataraite imashita. Aruhi kahou de aru juu-mai no kouka na touki no sara o katazuketeiru toki, Okiku wa ukkari sono sara no ichi-mai o watte shimaimashita. Okotta Aoyama wa Okiku o koroshi, sono shitai o furuido ni nagesutemashita. Sonogo maiban Okiku no yuurei ga ido kara araware, sara o yukkuri kyuu-mai made kazoeruto, totsuzen hitsuuna susurinaki o hajimeru no deshita. Sore wa nandomo nandomo kurikaesare, Aoyama o kurushimemashita. Tsuini Aoyama wa ki ga kurui, Okiku no fukushuu wa hatasareta no deshita.

Okiku works as a maid at the home of the samurai Tessan Aoyama. One day while cleaning a collection of ten precious ceramic plates, which is a family treasure, she accidentally breaks one of them. The outraged Aoyama kills her and throws the corpse into an old well. Every night afterwards, Okiku's ghost rises from the well, slowly counts out nine plates and then breaks into heartrending sobs, over and over and over again, tormenting the samurai. Finally, vengeance is wrought when Aoyama goes insane.